Minggu, 02 April 2017

Uang Dalam Masyarakat Tradisional dan Modern



  
Bab I  
pendahuluan
a.       Latar belakang

Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang  panjang. Pada mulanya, masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang  berusaha memenuhi kebutuhannnya dengan usaha sendiri. Manusia  berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri; singkatnya, apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya.
            Perkembangan selanjutnya mengahadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri ternyata tidak cukup untuk memenuhui seluruh kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya. Akibatnya muncullah sistem
“barter” yaitu barang yang ditukar dengan barang.  Namun pada akhirnya, banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini.
            Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul suatu anggapan kesulitan ketika  perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam bertambah sementara jumlah logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas. Penggunaan uang logam  juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar sehingga diciptakanlah uang kartal (Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, 1999: 49-61 )[1], mula-mula uangkartal (kertas) yang beredar merupakan bukti-bukti pemilikan emas dan perak sebagai alat/perantara untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan di  pandai emas atau perak dan sewaktu-waktu dapat ditukarkan penuh dengan jaminannya. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak lagi menggunakan emas (secara langsung) sebagai alat pertukaran. Sebagai gantinya, mereka menjadikan“kertas-bukti” tersebut sebagai alat tukar

b.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang yang ada diatas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut, antaralain :
1.       Bagaimana uang digunakan dalam tiga bentuk masyarakat yang berbeda yaitu masyarakat tradisional dan masyarakat post modern ?
2.       Bagaimana perubahan pengunaan materi suatu uang ?


c.       Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijabarkan diatas, adapun tujuan dari  pembahasan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui mengenai arti uang, dan fungsi uang pada masyarakat yang berbeda yaitu masyarakat tradisional, masyarakat modern, dan masyarakar post modern.
2.      Untuk mengetahui perubahan pengunaan materi suatu uang.






Bab II
Pembahasan

I.                   Uang Dalam Masyarakat Tradisional
      Dalam masyarakat tradisional, fenomena uang berhubungan dengan fenomena sosial budaya dan politik. Uang dengan kata lain, melekat (embedded) pada institusi sosial, budaya, politik, dan agama. Pemakaian uand dalam masyarakat tradisional. Oleh karena itu, bukan merupakan kebutuhan akan benda – benda yang dapat dihitung untuk dipertukarkan secara langsung tetapi ia merupakan kebutuhan sosial, budaya, politik atau agama.
      Jika ada unsur uang seperti yang terkandung dalam masyarakat modern yaitu sebagai alat pembayaran, standar, dan sarana pertukaran yang dimijliki oleh masyarakat tradisional, ia adalah bahagian institusi – institusi yang disebut di atas. Seperti yang dikatakan oleh Polanyi (1957 – 264):  Penggunaan uang sebagai alat pembayaran termasuk penggunaan uang yang paling umum di zaman dulu. Disini kewajiban biasanya tidak timbul dari transaksi. Dalam masyarakat primitif yang tidak mengenal transaksi, Pembayaran biasanya dilakukan dalam hubungan dengan institusi – institusi seperti emas kawin, ganti rugi, dan denda. Dalam masyarakat kuno pembayaran   seperti ini berlanjut tetapi kemudian dikalahkan oleh pembayaran iuran adat, pajak sewa, dan upeti yang menaikkan pembayaran secara besar – besaran.
      Atau ketiga unsur yang disebut di atas dijalankan secara tidak lengkap. Oleh karena Itu , Polanyi ( 1957 : 265 – 268 ) menganggap uang dalam masyarakat tradisional dipergunakan untuk tujuan khusus :  Berbagai benda digunakan untuk berbagai tujuan selain itu, berbagai macam penggunaan itu lahir sendiri – sendiri. Makna semua ini sangat luas. Misalnya, bukan hal yang bertentangan bila orang “membayar” dengan alat yang dipakai untuk membeli, atau bila orang orang menggunakan sebagai alat tukar. Dibabylonia waktu pemerintahan Hammurabi, gandum adalah alat bayar sedangkan perak merupakan standar universal.  Dalam pertukaran keduanya digunakan bersama – sama dengan minyak, woll, dan beberapa jenis bahan pokoknya lainnya suatu hal yang jarang terjadi. Itulah sebabnya mengapa jenis – jenis penggunaan uang seperti jenis – jenis kegiatan perdagangan dapat berkembang hampir tanpa batas, tidak hanya di luar ekonomi pasar, melainkan juga jika ada pasar.
      Dalam masyarakat primitif, uang dipakai untuk membayar berbagai macam tebusan atau penggantian terhadap suatu pencemaran agama, penghinaan, pelanggaran adat, perzinaan, perbuatan sumbang, atau kegiatan ritual. Keadaan ini menunjukan pada berbagai jenis uang untuk beragam tujuan dari penggunaannya atau uang khusus.

II.                Uang Dalam Masyarakat Modern
 `    Masyarakat modern ditandai oleh perkembangan dan pengalaman dengan industri. Masyarakat yang pertama mengalami perkembangan industri. Masyarakat yang pertama mengalami perkembangan industri adalah masyarakat pra kapitalis, seperti telah kita rujuk sebelumnya pada pandangan Polanyi, fenomena ekonomi seperti perdagangan, pasar, dan uang didasarkan pada tujuan selain mencari laba. Kehidupan ekonomi dalam masyarakat tersebut diatur oleh resiprositas, redistribusi, dan keluarga subsistensi. Sebaliknya dalam masyarakat modern, ekonomi terstruktur atas dasar pasar yang mengatur dirinya sendiri 9delf – tegulating market) yang dilandaskan pada hukum penawaran dan permintaan. Dalam masyarakat ini, barter tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan kegiatan ekonomi yang semakin kompleks. Oleh sebab itu, uang menggantikan fungsinya. Penggunaan uang sebagai alat tukar muncur karena ada kebutuhan benda – benda yang dapat dihitung untuk tujuan tukar menukar secara tidak langsung.
      Uang dalam masyarakat modern, menurut Polanyi (1957), mengandung tiga hal yaitu sebagai alat pembayaran , satuan hitung dan sarana pertukaran. Sebagai alat pembayaran, uang merupakan pelaksanaan kewajiban terhadap objek – objek yang dapat dihitung dipindah kepada pihak lain. Dengan kata lain, jika suatu benda dapat digunakan untuk memenuhi lebih dari satu kewaajiban, secara sederhana, ia dapat dikatakan sebagai alat pembayaran.  Uang sebagai satuan hitung merupakan satuan ukuran yang digunakan untuk menentukan besarnya nilai atau harga suatu barang dan jasa. Uang sebagai sarana pertukaran merupakan alat tukar umum apabila uang dipergunakan untuk membeli atau mendapatkan barang dan jasa

III.             Uang Dalam Masyarakat Post Modern
Postmodernisme merupakan sebuah konsep yang dikembang oleh Dominic Strinati dalam kajian budaya populer. Konsep ini digunakan untuk menggambarkan dan menganalisis aspek penting dalam kebudayaan kontemporer atau budaya masa kini.
Dalam konsep post modern, keterkaitan antara media massa dan budaya sangat erat. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya karena keduanya mempunyai kepentingan yang saling menguntungakan. Uang dalam masyarakat postmodern dianggap sangat penting bukan hanya digunakan sebagai alat tukar melainkan juga sebagai simbol bagi pemiliiknya.
Semakin berkembangnya IT memunculkan penemuan – penemuan sebagai berikut.
1.      Cek (Checks)
Sebagai alat pembayaran umum yang diterimah oleh masyarakat, uang kertaspun tidak terlepas dari kesulitan teknis seperti halnya komoditas terutama terkait sengan masalah keaman. Untuk mengatasinya, dunia perbankan kemudian mengembangkan cek, yaitu suatu perintah dari seseorang kepada bank untuk mentransfer uang dari rekening orang yang bersangkutan kepada rekening orang lain ketika orang tersebut mendepositokan cek yang dimaksud.

2.      Pembayaran Elektronik (Electronic Payment)
Penggunaan komputer yang meluas dan perkembangan jaringan komunikasi melalui komputer dengan internet, menciptakan sistem pembayaran yang jauh lebih murah, mudah dan efisien dari segi waktu dibandingkan sistem pembayaran dengan menggunakan cek. Dengan mengakses web site yang disediakan oleh bank, seseorang dapat melakukan pembayaran hanya dengan mengeclick beberapa pilihan komputernya, proses pembayaran hampir dapat dikatakan menjadi menyenangkan. Pada tahap perkembangan terakhir bahkan pembayaran elektronik dapat dilakukan dengan mudah melalui telepon genggam (handphone).

3.      Uang Elektronik (E-Money)
Pembayaran elektronik selain menggantikan pembayaran dengan cek, juga daat menggantikan pembayaran secara tunai dalam bentuk uang elektronik (E-Money), yaitu uang yang keberadaannya hanya dalam bentuk elektronik
 Uang elektronik terbagi atas dua bentuk yaitu :
a.       Debit ( Debit cash )
Dalam keseharian umum dikenal dengan kartu kredit yang dapat dimanfaatkan oleh konsumen dalam pembelian barang dan jasa melalui transfer pembayaran dari rekening bank konsumen yang bersangkutan ke rekening pedang secara elektronik
b.      E-cash
Seseorang dapat memperoleh e-cash dengan cara membuka rekening dengan suatu bank yang memiliki jaringan internet, dan kemudian bank mentrasfer e-cash ke komputer pribadi yang bersangkutan

IV.             Perubahan Penggunaan materi suatu uang

Teori perubaan penggunaan materi suatu uang terdiri atas dua yaitu :Teori Uang Statis dan Teori Uang Dinamis.
1.      Teori Uang Statis
Teori ini disebut statis karena tidak mempersoalkan perubahan nilai uang yang diakibatkan perkembangan ekonomi.
Teori ini meliputi:
1. Teori Metalisme, teori yang hampir sama dengan pengertian nilai intrinsik.
2. Teori Konvensi, teori yang menyatakan uang bisa diterima secara umum di masyarakat karena atas dasar perjanjian/ mufakat.
3. Teori Nominalisme, teori ini menyatakan diterimanya uang berdasarkan nilai daya belinya.
4. Teori Negara, teori ini menyatakan bahwa uang adalah benda yang ditetapkan oleh negara yang berfungsi sebagai alat tukar dan alat bayar. Jadi nilainya pun ditetapkan oleh pemerintah yang diatur oleh undang-undang.
2.      Teori Uang Dinamis
Kalau teori diatas tidak mempersoalkan perubahan nilai uang, maka Teori Uang Dinamis ini adalah sebaliknya.
Teori ini meliputi:
1. Teori Kuantitas, pada teori ini David Ricardo menyatakan bahwa kuat atau lemahnya nilai uang sangat tergantung pada jumlah uang yang beredar. Kemudian Irving Fisher menyempurnakan teori diatas dengan menyatakan tidak hanya tergantung pada jumlah saja, tapi juga pada kecepatan peredaran uang, barang dan jasa sebagai faktor yang memengaruhi nilai uang.
2. Teori Persediaan Kas, pada teori ini menyatakan bahwa perubahan nilai uang tergantung dari jumlah uang yang tidak dibelikan barang-barang.
3. Teori Ongkos Produksi, pada teori ini menyatakan nilai uang dalam peredaran yang berasal dari logam dan uang itu dapat dipandang sebagai barang.

Bab III
Penutup
A.    Kesimpulan
      Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa.
Uang dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang.Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran.
Postmodernisme merupakan sebuah konsep yang dikembang oleh Dominic Strinati dalam     kajian budaya populer. Konsep ini digunakan untuk menggambarkan dan menganalisis aspek penting dalam kebudayaan kontemporer atau budaya masa kini.

Daftar Pustaka
Buku sosiologi uang
http://deluk12.wordpress.com/makalah-jenis-dan-fungsi-uang/

http://ucu-syarief.blogspot.com/2011/03/makalah-ekonomi
¬¬¬¬¬¬¬¬¬_________tentang-uang.html



Makalah Pengantar Manajemen Dalam Teknik pengendalian dalam manajemen




MAKALAH
PENGANTAR MANAJEMEN
PERAN DAN TEKNIK PENGENDALIAN DALAM MANAJEMEN









Disusun Oleh:

Kelompok 15
IDI AMIN NAJAMUDIN
ASMINA RAHMAWATI






Fakultas Ekonomi
Universitas Islam Malang
2016

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulisan makalah yang berjudul “Peran dan Teknik Pengendalian dalam Manajemen” ini dapat diselesaikan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak-pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Penulisan makalah ini dalam rangka untuk memenuhi tugas Pengantar Manajemen dan diharapkan dengan adanya makalah ini pembaca dapat menambah wawasan.
Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih kurang sempurna. Oleh karena itu, segala kritik yang bersifat membangun akan penulis terima dengan tangan terbuka.



Malang,  Maret 2016



       














DAFTAR ISI

JUDUL…………………………………………………………………………                 1
KATA PENGANTAR……………  …………………………………………..                2
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………….                3
           
Bab I Pendahuluan :

1.1      Latar Belakang…………………………………………………………….               4
1.2      Rumusan Masalah………………………  ……………………………….               4
1.3      Tujuan Penulisan………………………… ………………………………               4

Bab II Pembahasan:

2.1     Pengertian Pengendalian................................................................               5
2.2     Jenis-jenis Pengendalian..............................................................                 6
2.3     ProsesPengendalian……………………… ………………………              6
2.4    Karateristik Pengendalian yang Efektif…  ……… …………….               7
2.5    PerancanganSistem Pengendalian…………     ……………………………7
2.6     Pengendalian Keuangan…………………………………………               7
2.7     Metode Pengendalian Anggaran…………………………………               8
2.8     Jenis-jenis Anggaran…………………………………………….               8

Bab III Penutup :

Kesimpulan……………………………………………………………..                 8

Daftar Pustaka…………………………………………………………….               9














BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Suatu organisasi yang menjalankan sejumlah aktivitas memulai kegiatannya dengan melakukan proses perencanaan. Perencanaan dilakukan melalui aktivitas yang melibatkan individu-individu. Aktivitas inidividu ini diarahkan untuk mencapai tujuan organisasi. Yang sering dilakukan adalah adanya kesadaran individu sebagai makhluk juga mempunyai keinginan-keinginan atau tujuan pibadi. Tujuan pribadi seseorang bisa selaras dengan tujuan organisasi, bisa juga tidak selaras. Ketidakselarasan tujuan mengakibatkan tujuan organisasi atau tujuan individu tidak tercapai.
Untuk itu diperlukan suatu pengendali kerja sehingga tujuan individu bisa selaras dengan tujuan organisasi. Salah satu alat untuk mencapai hal tersebut adalah adanya sistem pengendalian manajemen yang baik.
Pokok pembahasan pada makalah ini berfokus pada peran dan teknik pengendalian dalam manajemen.

1.2  Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas dapat ditarik beberapa rumusan masalah, yaitu :
1.      Pengertian pengendalian
2.      Jenis-jenis pengendalian
3.      Proses pengendalian
4.      Karakteristik pengendalian efektif
5.      Perancangan sistem pengendalian
6.      Pengendalian keuangan
7.      Metode pengendalian anggara
8.      Jenis-jenis anggaran

1.3  Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini selain untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Sistem Pengendalian Manajemen, juga agar para pembaca mengetahui dan memahami hakekat Sistem Pengendalian Manajemen




BAB II
PEMBAHASAN


2.1 PENGERTIAN PENGENDALIAN

Pengendalian/Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut.



2.2 JENIS-JENIS PENGENDALIAN

1.Pengendalian Pendahuluan
Pengendalian ini memastikan bahwa sebelum kegiatan dimulai, maka sumber daya manusia, bahan dan modal yang diperlukan sudah dianggarkan sehingga bilaman kegiatan dilakukan, maka sumber daya tersebut tersedia, baik menyangkut jenis, kualitas, kuantitas, maupun sesuai dengan kebutuhan.
2. Pengendalian Bersamaan
Dalam hal ini, manajer melakukan fungsi pengarahan kepada pekerjaan bawahannya. Pengarahan yang dimaksud, yaitu melalui tindakan ketika mereka memberikan instruksi kepada bawahan dalam berbagai metode dan prosedur yang layak serta mengawasi pekerjaan bawahan untuk menjamin supaya pekerjaan dikerjakan dengan baik.
3. Pengendalian Umpan Balik
Sistem pengendalian umpan balik biasanya berfokus pada hasil-hasil akhir sebagai dasar perbaikan berbagai tindakan masa depan. Metode umpan balik yang dipakai dalam bisnis meliputi analisis laporan keuangan, pengendalian kualitas, dan evaluasi kinerja karyawan.

2.3 PROSES PENGENDALIAN

Proses pengendalian terdiri dari 4 aktifitas yaitu:
Penetapan tujuan (goal setting), pengukuran (measuring), membandingkan kinerja actual dengan standar kinerja (comparing actual permfomance against standard) dan tindakan manajerial (managerial action).
Penetapan tujuan diawali dengan adanya penetapan terlebih dahulu berbagai tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan, strategi untuk mencapai tujuan tersebut sampai penentuan anggaran yang menunjukan rencana alokasi masing-masing sumber daya organisasi perusahaan dalam menunjang pencapaian tujuan.
Pengukuran merupakan penetapan satuan numeric terhadap suau objek yang di ukur. Aktifitas pengukuran menyangkut 2 hal :
1.      Pengukuran berkaitan dengan apa yang di ukur.
2.      Pengukuran berkaitan dengan bagaimana pengukuran dilakukan.

Membandingkan merupakan proses membandingkan kinerja actual dengan starndard kinerja dan berbagai tujuan yang telah ditetapkan tujuan maupun standard ditetapkan pada tahap perencanaan (planning).
Tindakan managerial langkah terakhir dari proses pengendalian adalah melakukan evaluasi terhadap kinerja yang dicapai organisasi secara keseluruan maupun pencapaian kinerja individu.

2.4 KARAKTERISTIK PENGENDALAIN YANG EFEKTIF

Ciri-ciri dari pengendalian yang efektif

• Proses berawal ketika director mencari informasi tentang aktivitas, director ini dapat berupa system informasi baik formal maupun informal, yang menyediakan informasi kepada pimpinan mengenai apa yang terjadi di dalam suatu aktifitas.
• Setelah informasi diperoleh , aktifitas yang terekam di dalamnya dibandingkan dengan   standart atau patokan berupa criteria mengenai apa yang seharusnya dilaksanakan dan seberapa jauh juga pembenaran.
• Proses perbaiakn dilaksanakan oleh efektir, sehingga penyimpangan-penyimpangan diubah agar kegiatan kembali mengikuti criteria yang telah ditetapkan.
• Begitulah propses pengendalian manajemen , dinamis dan berkelanjutan.

2.5 PERANCANGAN SISTEM PENGENDALIAN

Tidak ada sistem yang baik dan buruk , yang ada adalah suatu desain system pasfit dengan lingkinagn bisnis yang dihadapi oleh organisasi. Suatu system dengan lingkunagn tempat system tersebut digunakan untuk menjadikan system tersebut efektif untuk menjalankan bisnis dilingkungan tersebut. Oleh karena itu mendesain system pengendalian manajemen, karakteristik lingkungan bisnis yang dimasuki oleh organisasi merupakan dasar untuk mendesain system tersebut. Pendekatan penyusunan system seperti itu disebut Contingency Approach.
Lingkungan bisnis ibarat suatu territorial, untuk menjelajahi diperlukan suatu peta. Peat yang menggambarkan lingkungan bisnis yang dihadapi oleh manajemen disebut paradigm the way we see the world. Paradigm tertentu kta memandang dunia yang dihadapi, dan denagn paradigma ini kita bersikap dan bertindak. Serta berdasarkan paradigma tersebut kita mendesain system suatu alat yang kita digunakan untuk mengorganisasikan berbagai sunber daya untuk mewujudkan system.
Setiap sistem terdiri dari dua bagian: struktur dan proses struktur.

2.6 PENGENDALIAN KEUANGAN

Laporan keuangan

Laporan keuangan digunakan untuk menelusuri nilai uang dari barang atau jasa yang masuk kedalam dan luar organisasi. Laporan memberikan sarana untuk memonitori tiga kondisi utama keuangan,yaitu:
1. Likuiditas yaitu kemampuan mengubah aktiva menjadi uang tunai agar dapat memenuhi    kebutuhan jangka pendek.
2. Kondisi umum keuangan yaitu keseimbangan jangka panjang antara utang fan kekayaan.
3. Profitabilitas yaitu kemampuan untuk mendapatkan laba secara kurun waktu yang panjang.

2.7 METODE ANGGARAN

Anggaran adalah laporan kuantitatif formal mengenai sumber daya yang disisihkan untuk melaksanakan aktivitas yang telah direncanakan selama jangka waktu tertentu. Anggaran dapat dinyatakan dalam bentuk uang yang mudah digunakan dalam berbagai kegiatan aktivitas organisasi atau perusahaan. Aspek keuangan dari anggaran dapat memberikan informasi secara langsung mengenai modal dan laba. Anggaran juga dapat menetapkan standar prestasi kerja yang jelas dan tidak meragukan untuk jangka waktu tertentu.
Proses pembuatan anggaran dimulai ketika manajer menerima ramalan ekonomi serta pemnjualan penjualan dan laba untuk tahun mendatang dari manajemen puncak, bersama dengan jadwal kapan dengan pengukuran harus diselesaikan. Selama proses penjualan anggaran ketika sumber daya tang terbatas milik perusahaan dialokasikan, manajer mungkin merasa khawatir bawha mereka tidak mendapat bagian yg adil.

2.8 JENIS-JENIS ANGGARAN

            Jenis jenis anggaran Meliputi yaitu :
1. Anggaran operasi
Menunjukan barang dan jasa yang diperkirakan akan dkonsumsi oleh perusahaan selama periode anggaran .
2. Anggaran keuangan
Menyatakan secara rinci uang yang akan dikeluarkan oleh perusahaan selama periode yang sama dan darimana asal uang tersebut.



BAB III

KESIMPULAN


Pengendalian dapat diartikan sebagai sebuah system yang terdiri dari beberapa subsistem yang saling berhubungan untuk membantu manajemen suatu organisasi/perusahaan untuk mencapai tujuannya melalaui strategi tertentu secara efisien dan efektif dan untuk mencegah adanya penyimpangan atau  setidaknya memperkecil kesalahan yang mungkin akan terjadi.
Dalam perencanaan system pengendalian, tidak ada sistem yang baik dan buruk , yang ada adalah suatu desain system pasfit dengan lingkungan bisnis yang dihadapi oleh organisasi. Suatu system dengan lingkungan tempat system tersebut digunakan untuk menjadikan system tersebut efektif untuk menjalankan bisnis dilingkungan tersebut.






DAFTAR PUSTAKA






Buku Pengantar Manajemen, Amiruloh

Ismail Solihin, 2009. Pengantar Manajemen, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Diposkan 27th March 2014 oleh Nadia Nur Azizah

Makalah manajemen operasional starbuck

Daftar Isi Kata Pengantar   ................................................................................................. i...